Rabu, 14 September 2016

lanjutan tugas 2 Bumi dan Manusia sebagai Penghuni Bumi

Bumi dan Manusia sebagai Penghuni Bumi
A.    Manusia dan Negara
1.     manusia sebagai makhluk individu dan makhluk sosial
Kata manusia berasal dari kata manu (sansekerta), atau mens (latin) yang berarti berpikir, berakal budi, atau homo yang berarti seseorang yang di lahirkan dari tanah, humus = tanah.
Manusia sebagai makhluk individu, terdiri dari unsur jasmani (raga) dan unsur rohani (jiwa) yang merupakan satu kesatuan.Manusia sebagai makhluk sosial, sering di sebut zoon politicon, yaitu makhluk yang pada dasarnya ingin bergaul dengan manusia yang lainnya (Aristoteles, 384-322 M)

2.      makna bangsa
Bangsa adalah komunitas etnik yang ciri-cirinya adalah, memilki nama, wilayah tertentu, mitos leluhur bersama, kenangan bersama, satu atau beberapa budaya yang sama dan solidaritas tertentu.

3.     makna negara
Negara adalah organisasi yang di dalamnya ada rakyat, wilayah yang permanen, dan pemerintahan yang berdaulat (baik ke dalam maupun ke luar).Dalam arti luas negara merupakan kesauan sosial (masyarakat) yang di atur secara konstusional untuk mewujudkan kepentingan bersama.

B.     Perkembangan penduduk di dunia
jumlah penduduk pada suatu negara selalu mengalami perubahan yang disebabkan oleh faktor kelahiran, kematian dan migrasi atau perpindahan penduduk. Perubahan keadaan penduduk tersebut dinamakan dinamika penduduk. Dinamika atau perubahan penduduk cenderung kepada pertumbuhan. Pertumbuhan penduduk ialah perkembangan jumlah penduduk suatu daerah atau negara. Jumlah penduduk suatu negara dapat diketahui melalui sensus, registrasi dan survei penduduk. Jumlah penduduk Indonesia sejak sensus pertama sampai dengan sensus terakhir jumlahnya terus bertambah. Sensus pertama dilaksanakan pada tahun 1930 oleh pemerintah Hindia Belanda. Sedangkan sensus yang pernah dilakukan oleh pemerintah Indonesia adalah pada tahun 1961, 1971, 1980, 1990 dan yang terakhir 2000. Sensus di Indonesia dilaksanakan oleh Badan Pusat Statistik (BPS) dan waktu pelaksanaan sensus di Indonesia diadakan sepuluh tahun sekali. Berikut ini merupakan jumlah penduduk Indonesia berdasarkan sensus tahun 1930 – 2000.
Untitled
Berdasarkan data sensus di atas dapat dilihat bahwa perkembangan jumlah penduduk di Indonesia selalu mengalami peningkatan. Peningkatan perkembangan jumlah penduduk tersebut tidak hanya terjadi di negara Indonesia. Perkembangan penduduk juga terjadi di negara-negara lain. Berikut ini meruakan penjelasan mengenai perbandingan jumlah, kepadatan dan laju penduduk Indonesia dengan beberapa negara lain.
Dalam hal jumlah penduduk, Indonesia menempati urutan pertama di negara ASEAN. Berdasarkan pada aspek kepadatan penduduknya, indonesia menempati urutan ke lima, yaitu 114 jiwa per km2. Kepadatan penduduk tertinggi di negara-negara ASEAN ditempati oleh negara Singapura, sedangkan kepadatan penduduk terendah ditempati oleh negara Brunei Darussalam. Sedangkan pada tahun 2005, laju pertumbuhan penduduk di Indoesia menenpati posisi ke enam (1,45% per tahun), setelah Laos (2,3% per tahun) Filipina (2,0% per tahun) Malaysia (1,80% per tahun), Brunei Darussalam (1,9% per tahun), Kamboja (1,8% per tahun) serta Singapura dan Thailand (0,8% per tahun). Di negara-negara ASEAN, beberapa negara pertumbuhan penduduknya masih tergolong tinggi. Akan tetapi secara keseluruhan persentase pertumbuhan penduduk telah mengalami penurunan dari tahun sebelumnya. Berikut ini merupakan tabel pertumbuhan penduduk negara ASEAN pada tahun 2005.
https://retnoeka.files.wordpress.com/2015/05/image2.jpg
Jumlah penduduk negara Indonesia apabila dibandingkan dengan negara-negara di dunia, maka Indonesia menempati posisi ke empat yaitu sebanyak 215,27 juta jiwa. Sedangkan negara-negara di dunia yang menenpati posisi pertama, kedua dan ketuga dalam hal jumlah penduduk yaitu negara Cina (1,306 milyar jiwa), India (1,068 milyar jiwa) dan Amerika Serkat (295 juta jiwa) pada tahun 2005. Negara terpadat penduduknya adalah Macao (22.260 jiwa per km2), setelah itu Monako(16.135 jiwa per km2) dan Singapura (7.461 jiwa per km2). Indonesia memiliki kepadatan penduduk jauh di bawah ketiga negara tersebut, yaitu sebesar 341 jiwa per km. Berikut ini merupakan tabel yang menunjukkan pertumbuhan penduduk di negara-negara dunia.
https://retnoeka.files.wordpress.com/2015/05/image3.jpg
Berdasarkan tabel di atas,maka dapat diketahui bahwa negara Cina dan India adalah dua negara yang jumlah penduduknya terbesar, bukan hanya di Asia tetapi juga di dunia dan sudah berusaha menekan laju pertumbuhan penduduknya. Selain mengenai pertumbuhan penduduk di Cina dan India. Pertumbuhan penduduk di negara-negara Afrika dan Timur Tengah umumnya masih sangat tinggi dan berada di atas Indonesia serta negara Amerika Serikat, Eropa dan Rusia umumnya sangat kecil. Berikut ini merupakan peta dunia yang menggambarkan pertumbuhan penduduk pada tahun 2000 yang dinyatakan dalam persen.

C.    Persebaran penduduk di dunia
Penyebaran penduduk dapatlah diartikan pindahnya penduduk dari satu tempat ke tempat lain oleh apapun sebabnya, yang akan mengakibatkan terjadinya perubahan penduduk. Prosesnya dengan imigrasi atau emigrasi dan transmigrasi.
Penyebaran penduduk juga tidak terlepas dari konsep tentang kemajuan masyarakat atau kemajuan kebudayaan manusia yang dengan lambat berkembang dari bentuk- bentuk bersahaja ke bentuk- bentuk yang kompleks. Mulai dari tingkat masyarakat berburu atau tingkat liar (savage), tingkat beternak atau tingkat barbar (barbarism), dan tingkat pertanian ketika berkembang peradaban (civilization). Dengan perkembangan kebudayaan ini otomatis akan terjadi penyebaran penduduk yang erat hubungannya dengan faktor ekologis. Bilamana menemukan daerah subur, disitu peradaban akan berkembang dan penduduk menetap. Contoh daerah Euphrat dan Tigris merupakan lembah yang pernah dialami penduduk yang cukup padat.
Kalau dilihat secara umum, terjadinya migrasi-migrasi itu ada yang lambat, otomatis, cepat dan mendadak. Hal ini sejajar dengan perkembangan makhluk manusia yang selalu membanyak jumlahnya dan menginginkan tempat-tempat yang baru di muka bumi.
Kalau melihat rekontruksi W. Howells Nampak bahwa migrasi-migrasi besar penduduk dunia antara 80.000 sM sampai 1.000 sM cenderung menyusuri pantai- pantai di setiap benua dan membuat garis spiral dengan arah ke pedalaman.
Migrasi yang lambat terjadi pada kelompok manusia yang pindah dari Benua Asia ke Benua Amerika pada akhir zaman Glasial ke-4. Selama beribu- ribu tahun lamanya binatang maupun manusia mulai pindah ke utara. Migrasi yang cepat dan mendadak diakibatkan oleh bermacam sebab, misalnya karena bencana alam, wabah, perubahan mata pencaharian, dan peperangan. Ada juga yang disebabkan oleh peristiwa khusus seperti pelayaran bangsa cina di Asia Timur dan Asia Tenggara, pelayaran bangsa Arab, dari Asia Barat ke Afrika Utara, pelayaran bangsa Eropa ke Benua Afrika, Asia, dan Amerika.
Ada dua faktor yang mempengaruhi penyebaran penduduk, yaitu faktor pendorong dan faktor penarik. Faktor pendorong dapat disebabkan oleh alasan ekonomi, politis dan agama. Contohnya orang Vietnam yang mengungsi, orang Yahudi yang kembali ke Cina setelah Perang Dunia II, orang islam di India yang beremigrasi massal ke Pakistan. Faktor penarik sifatnya umum, misal propaganda suatu Negara untuk menarik para imigran. `            Selanjutnya, Petersen mengemukakan adanya migrasi primitif, penyebaran yang tidak tentu seperti mencari makan (food-gathering) dan berburu (barbar), berkelana (wandering) dan berkelompok menjelajahi suatu wilayah (ranging). Semua migrasi ini disebabkan oleh dorongan ekologis, sebagai hubungan antara alam dengan manusia. Pada zaman modern motif migrasi adalah adanya revolusi industri, korban perang, atau membuka daerah pertanian baru.
Menurut ahli demografi yang mengamati dinamika penduduk Indonesia secara makro, penduduk Indonesia bersifat highly immobile, tidak banyak berpindah-pindah untuk menetap di luar daerah kelahiran mereka kalau tidak terpaksa atau dipaksa untuk pindah. Istilah berpindah ini disebut migrasi, yaitu perpindahan ke luar dari batas daerah kebudayaan seseorang. Pengertian ini lebih tepat untuk kondisi migrasi di Indonesia, yang pada umumnya mobilitas penduduk Indonesia bersifat merantau dengan tujuan mencari mata pencaharian yang lebih baik, bersifat sementara dan punya harapan kembali ke kampung halaman. Migrasi yang tidak berdasarkan sikap serta harapan untuk kembali ke kampung halaman asli, terjadi pada masyarakat batak toba akibat terlalu padat penduduknya sekitar tahun 1930.

D.    Faktor-faktor yang mempengaruhi perkembangan penduduk
Pertambahan penduduk pada dasarnya dipengaruhi oleh faktor – faktor demografi sebagai berikut :
 1. Kematian (Mortalitas)
Kematian adalah hilangnya tanda-tanda kehidupan manusia secara permanen. Kematian bersifat mengurangi jumlah penduduk dan untuk menghitung besarnya angka kematian caranya hampir sama dengan perhitungan angka kelahiran. Banyaknya kematian sangat dipengaruhi oleh faktor pendukung kematian (pro mortalitas) dan faktor penghambat kematian (anti mortalitas).
a)      Faktor pendukung kematian (pro mortalitas)
Faktor ini mengakibatkan jumlah kematian semakin besar. Yang termasuk faktor ini adalah:
– Sarana kesehatan yang kurang memadai.
– Rendahnya kesadaran masyarakat terhadap kesehatan
– Terjadinya berbagai bencana alam
– Terjadinya peperangan
– Terjadinya kecelakaan lalu lintas dan industri
– Tindakan bunuh diri dan pembunuhan.
b)      Faktor penghambat kematian (anti mortalitas)
Faktor ini dapat mengakibatkan tingkat kematian rendah. Yang termasuk faktor ini adalah:
– Lingkungan hidup sehat.
– Fasilitas kesehatan tersedia dengan lengkap.
– Ajaran agama melarang bunuh diri dan membunuh orang lain.
– Tingkat kesehatan masyarakat tinggi.
– Semakin tinggi tingkat pendidikan penduduk.
2.  Kelahiran ( Natalitas )
Kelahiran bersifat menambah jumlah penduduk. Ada beberapa faktor yang menghambat kelahiran (anti natalitas) dan yang mendukung kelahiran (pro natalitas).
Faktor-faktor penunjang kelahiran (pro natalitas) antara lain:                                                     
• Kawin pada usia muda, karena ada anggapan bila terlambat kawin keluarga akan malu.
• Anak dianggap sebagai sumber tenaga keluarga untuk membantu orang tua.
• Anggapan bahwa banyak anak banyak rejeki.
• Anak menjadi kebanggaan bagi orang tua.
• Anggapan bahwa penerus keturunan adalah anak laki-laki, sehingga bila belum ada anak laki-laki, orang akan ingin mempunyai anak lagi.
Faktor pro natalitas mengakibatkan pertambahan jumlah penduduk menjadi besar.
• Adanya program keluarga berencana yang mengupayakan pembatasan jumlah anak.
• Adanya ketentuan batas usia menikah, untuk wanita minimal berusia 16 tahun dan bagi   laki-laki minimal berusia 19 tahun.
• Anggapan anak menjadi beban keluarga dalam memenuhi kebutuhan hidupnya.
• Adanya pembatasan tunjangan anak untuk pegawai negeri yaitu tunjangan anak diberikan hanya sampai anak ke – 2.
• Penundaaan kawin sampai selesai pendidikan akan memperoleh pekerjaan.
3. Migrasi
Migrasi penduduk adalah perpindahan penduduk dari tempat yang satu ke tempat lain. Dalam mobilitas penduduk terdapat migrasi internasional yang merupakan perpindahan penduduk yang melewati batas suatu negara ke negara lain dan juga migrasi internal yang merupakan perpindahan penduduk yang berkutat pada sekitar wilayah satu negara saja.
Faktor-faktor terjadinya migrasi, yaitu :
1.      Persediaan sumber daya alam
 Pengertian mengenai perubahan ini sangat penting dalam kaitannya dengan sumberdaya    alam yang tidak dapat diperbaharui, dan memang jenis sumberdaya inilah yang seringkali dikhawatirkan akan segera punah.
2.      Lingkungan social budaya
Subyek utama dalam mengungkap permasalahan lingkungan hidup adalah manusia. Manusia dan lingkungan hidup (alam) memiliki hubungan yang sangat erat. Keduanya saling memberi dan menerima pengaruh satu sama lain. Pengaruh alam terhadap manusia lebih bersifat pasif, sedangkan pengaruh manusia terhadap alam lebih bersifat aktif.
3.      Potensi ekonomi
Pertumbuhan ekonomi yang diikuti oleh perubahan dalam struktur dan corak kegiatan ekonomi atau usaha meningkatkan pendapatan per kapita dengan jalan mengolah kekuatan ekonomi potensial menjadi ekonomi riil melalui penanaman modal,
“penggunaan teknologi, penambahan pengetahuan, peningkatan keterampilan, penambahan kemampuan berorganisasi, dan manajemen.
4.      Alat masa depan
Perlu diketahui bahwa usia 15 – 49 tahun adalah usia subur bagi wanita. Pada usia itulah wanita mempunyai kemungkinan untuk dapat melahirkan anak.

E.     Proyeksi dan prediksi penduduk masa datang
Kini penduduk . angka ini dunia bertambah dengan 2,1% setiap tahunnya. Angka ini merupkan pukulratanya saja: adapun kenyataannya berdasarkan wiliyah demikian: untuk beberapa Negara di eropa hanya 0,5% yang berarti bahwa untuk menjadi dua lipat diperlukan masa 140 tahun, adapun pertambhannya tertinggi di Amerika Selatan, Afrika dan Asia, dapat lebih dari 3% bagi beberapa negranya. Disitu untuk mencapai kelipatan dari jumlah penduduk dibutuhkan kurang dari 25 tahun.
Pertambahan yang pesat yang biasa disebut dengan istilah eksponensial itu terutama disebabkan oleh penurunan angka kematian. Di dunia barat  kematian bayi maih menyusu besranya 1,5%. Perlu dicatat bahwa dua abad yang lalu di Eropa jumlah manusia yang dapat mencapai usia dewasa kurang separuhnya saja. Namun maltuhs (1978) sudah mengkhawatirkan datangya bahaya kelebihan penduduk.
Meskipun sekarang dunia berusaha keras mengendalikan laju pertambahan penduduknya, menurut perhitungan untuk dicapainnya berhentinya pertambahan masih diperlukan waktu lebih 40 tahun lagi. Ini disebabkan karena calon orangtua tahun 2000 sekarang sudah hadir didunia. Bahkan dengan pembatasan kelahiran sekalipun, jumlah penduduk dunia 4 milyar sekarang ini masih mampu untuk bertambah hingga mendekati kelipatan dua kali. Pada tahun 2020 diduga penghuni planet kita berjumlah 7 milyar. Namun berdasarkan sensusnya pada akhir tahun 1980 dapat menujukkan bahwa pada tahun 2000 nanti tak perlu dibebani jumlah penduduk sebnyak 280 juta: mungkin kita berhasilkah mengendalikan laju pertumbuhan penduduk kita sehingga tercepai jumlah ideal yakni 225 juta saja.


Sumber:
Barclay, W.George. 1984. Teknik Analisa Kependudukan. Jakarta: Bina Aksara.
Daljoeni. (1986). Pokok-pokok Geografi Manusia

Tidak ada komentar:

Posting Komentar